Sabtu, 30 April 2011

Peranan teknologi informasi dalam pendidikan tingkat menengah di Indonesia

1.
PERANAN STRATEGIS TEKNOLOGI INFORMASI DALAM SISTEM
PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DI INDONESIA
Abstrak
Unesco dalam beberapa publikasi formalnya menegaskan betapa pentingnya keberadaan dan pemanfaatan
teknologi informasi di dalam lingkungan sistem pendidikan dasar dan menengah. Spektrum pemanfaatan yang
dimaksud terentang dari fungsi teknologi informasi sebagai alat bantu atau sarana belajar mengajar sampai
dengan fungsi teknologi informasi sebagai alat bantu penyelenggaraan atau manajemen pendidikan di sekolah.
Indonesia pun melihat peranan strategis ini dalam konteks peningkatan kinerja dan mutu pendidikan dasar dan
menengah agar dapat tercipta sumber daya manusia yang handal dan dapat berkompetisi di dunia global.
Artikel ini memperlihatkan bagaimana peranan strategis teknologi informasi dalam sistem pendidikan dasar dan
menengah di Indonesia yang dapat dipergunakan oleh siapa saja yang hendak melakukan penyusunan terhadap
cetak biru perencanaan dan pengembangan teknologi informasi dalam dunia pendidikan.
Pendahuluan
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 20 Tahun 2003 (Bab II Pasal 3), fungsi dan
tujuan pendidikan di Indonesia adalah:
”Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,
cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara
yang demokratis serta bertanggung jawab”
Melalui definisi tersebut terlihat secara jelas
bagaimana konsep pembentukan ”menjadi manusia
Indonesia seutuhnya” yang kerap didengungdengungkan
di kalangan masyarakat. Hal tersebut
berarti bahwa lembaga pendidikan formal –
termasuk di dalamnya pendidikan dasar dan
menengah – harus memiliki kemampuan dalam
menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar demi
terciptanya manusia Indonesia seperti yang dicitacitakan
tersebut.
Indeks Pengembangan Sumber Daya Manusia yang
sedemikian rendah mengisyaratkan perlu
dilakukannya sejumlah terobosan-terobosan
terhadap tata cara penyelenggaran pendidikan di era
globalisasi dimana di dalamnya mengandung
sejumlah unsur-unsur baru yang berlawanan dengan
sejumlah paradigma lama yang masih kerap dipakai.
Dalam kaitan ini terlihat seberapa jauh peranan
strategis teknologi informasi dan komunikasi di
dalam proses penyelenggaraan pendidikan dasar dan
menengah demi terciptanya akselerasi penciptaan
sumber daya manusia berkualitas dengan kuantitas
yang memadai.
Bangunan Arsitektur Pendidikan Dasar dan
Menengah di Indonesia
Sistem pendidikan di tanah air dapat digambarkan
secara ringkas dalam sebuah arsitektur sebagai
berikut:
• Visi, Misi, dan Tujuan Sistem Pendidikan
Dasar dan Menengah dibangun berdasarkan
cita-cita bangsa yang dilandasi dengan nilainilai
budaya dan filosofi pendidikan yang
dianut (dengan mempertimbangkan faktor
eksternal ipoleksosbudhankam);
• Kunci keberhasilan pemenuhan visi dan misi
tersebut terletak pada 4 (empat) pilar utama
pendidikan, masing-masing adalah: Konten
dan Kurikulum, Proses Belajar Mengajar,
Fasilitas dan Sarana Prasarana, serta Sumber
Daya Manusia;
• Untuk dapat menyelenggarakan sistem
pendidikan tersebut, dikembangkanlah
infrastruktur dan suprastruktur pendidikan
yang menjadi landasan bagi lembaga
pendidikan formal tingkat dasar dan
menengah dalam menyelenggarakan
manajemen dan administrasi lembaga
pendidikan.
2
Paradigma Baru Sistem Pendidikan
Telah disadari bahwa untuk menjawab kebutuhan
dan tantangan dunia global saat ini, paling tidak
terdapat dua aspek dalam sistem pendidikan yang
harus berubah sesuai dengan paradigma baru yang
berlaku.
Pertama adalah dalam hal metode pembelajaran,
yang jika dahulu bersumber pada guru dan
berlangsung satu arah, saat ini harus dilakuan
berorientasi pada siswa dan berjalan secara multi
arah.
Kedua adalah dalam hal manajemen institusi
pendidikan. Ketika dahulu sebuah sekolah hanya
bergerak dan beroperasi sendiri (mandiri), maka
dalam konteks pembelajaran dewasa ini, setiap
sekolah harus membentuk sebuah jejaring antar
institusi pendidikan untuk dapat saling tukar
menukar pengetahuan dan sumber daya.
Kedua paradigma baru ini tentu saja akan berakibat
pada berubahnya peranan sebuah lembaga
pendidikan di tanah air. Melalui konteks inilah kelak
akan jelas terlihat fungsi dan peranan dari teknologi
informasi dan komunikasi.
Implementasi Paradigma Baru dalam Sistem
Pendidikan
Dengan berpegang pada komitmen prubahan
paradigma baru tersebut, maka penekanan yang
harus dilakukan terhadap sistem pendidikan di
Indonesia adalah sebagai berikut:
• Sistem pendidikan harus diimplementasikan
dengan berpegang pada prinsip “muatan
lokal, orientasi global”.
• Konten dan kurikulum yang dibuat haruslah
berbasis pada penciptaan kompetensi siswa
(kognitif, afektif, dan psikomotorik).
• Proses belajar mengajar haruslah berorientasi
pada pemecahan masalah riil dalam
kehidupan, tidak sekedar mengawangngawang
(Problem-Based Learning).
• Fasilitas sarana dan prasarana haruslah
berbasis teknologi informasi agar dapat
tercipta jejaring pendidikan antar sekolah dan
lembaga lainnya.
• Sumber daya manusia yang terlibat di dalam
proses pendidikan haruslah individu dengan
kemampuan multi-dimensi karena yang
bersangkutan harus dapat merangsang multiintelejensia
dari peserta didik.
• Manajemen pendidikan haruslah berbasis
sekolah dengan implementasi sistem
informasi terpadu sebagai tulang punggung
proses-proses administratif maupun strategis.
• Infrastruktur dan suprastruktur pendidikan
akan sangat dipengaruhi dengan strategi
otonomi daerah yang diterapkan secara
nasional.
Tujuh Peranan Strategis Teknologi Informasi
Dalam konteks inilah maka terlihat paling tidak
terdapat 7 (tujuh) peranan strategis teknologi
informasi bagi dunia pendidikan dasar dan
menengah seperti yang dijelaskan berikut.
T.I. sebagai Gudang Ilmu Pengetahuan
Kurikulum yang disusun dan dikembangkan
haruslah memperhatikan kemajuan ilmu
pengetahuan terkini. Disamping itu, konten yang
berkualitas dan terbaru harus pula dihadirkan dalam
setiap mata ajar yang diselenggarakan. Dengan
3
memanfaatkan teknologi informasi – khususnya
internet – setiap guru akan dapat dengan mudah
menjelajah dan mengakses berbagai gudang ilmu
pengetahuan di seluruh dunia untuk mendapatkan
konten terbaik yang diinginkan.
T.I. sebagai Alat Bantu Pembelajaran
Kurikulum berbasis kompetensi menuntut adanya
kreativitas guru sebagai fasilitator dalam memilih
pendekatan belajar mengajar yang efektif. Konsep
pembelajaran secara interaktif perlu ditunjang
dengan alat bantu atau media pembelajaran yang
memadai. Kemajuan teknologi informasi telah
menciptakan sejumlah produk yang mampu
berfungsi sebagai alat bantu pembelajaran yang
dapat menjawab tantangan ini. Misalnya adalah
perangkat multimedia untuk simulasi, aplikasi untuk
belajar mandiri, buku elektronik untuk siswa, dan
lain sebagainya.
T.I. sebagai Fasilitas Pendidikan
Sebuah institusi pendidikan yang baik pastilah
membutuhkan sejumlah fasilitas handal semacam
ruang kelas, laboratorium, perpusatakaan, dan lain
sebagainya. Dengan adanya teknologi informasi,
sebuah sekolah dasar dan/atau menengah akan
mendapatkan manfaat yang luar biasa karena dalam
waktu singkat yang bersangkutan dapat terkoneksi
secara cepat dan murah dengan e-library (electronic
library) yang terdapat di berbagai belahan dunia lain.
Demikian pula seorang guru dapat dengan mudah
mengakses laboratorium virtual dari beragam
sekolah di dunia melalui akses internet.
T.I. sebagai Standar Kompetensi
Keseluruhan pemanfaatan teknologi informasi di
atas hanyalah akan dapat terlaksana dengan baik
apabila para guru dan siswa sebagai peserta didik
memiliki kompetensi, keahlian, dan keterampilan
menggunakan teknologi tersebut. Oleh karena itulah
maka dikatakan mereka semua harus memiliki
standar kompetensi tertentu di bidang teknologi
informasi. Misalnya seorang guru harus mampu
mengoperasikan aplikasi pengolah kata, statistik,
analisa data, dokumen elektronik, dan lain
sebagainya. Sementara untuk mengerjakan pekerjaan
rumah, seorang siswa paling tidak mampu
mengoperasikan perangkat lunak presentasi dan
multimedia.
T.I. sebagai Penunjang Administrasi Pendidikan
Untuk mengelola sedemikian banyak siswa dan guru
secara efektif dibutuhkan sistem informasi terpadu
yang efektif. Sistem ini tidak hanya berfungsi
mengelola administrasi guru dan siswa saja, namun
lebih jauh untuk membantu berbagai proses dan
aktivitas belajar mengajar dari mulai pengaturan
kelas, pencatatan nilai, absensi siswa, materi
kurikulum, kegiatan ekstra kurikuler, sampai dengan
pencatatan dan rekam jejak alumni. Dengan
dicatatnya seluruh transaksi dan interaksi secara baik
(tertib administrasi) dengan menggunakan teknologi
informasi, maka guru akan dapat dengan mudah
mempelajari kekuatan dan kelemahan serta
kemajuan studi dari setiap siswa yang dimilikinya.
Tentu saja hal ini sangat bermanfaat bagi
perkembangan dunia pendidikan dasar dan
menengah yang bertugas menghasilkan siswa didik
handal dan berkualitas.
4
T.I. sebagai Alat Bantu Manajemen Sekolah
Manajemen sekolah memegang peranan sangat
penting dalam sebuah institusi pendidikan. Hal ini
disebabkan karena begitu banyak dan beraneka
ragamnya sumber daya pendidikan yang harus
dikelola seperti: uang, fasilitas, aset, siswa, guru,
pegawai, orang tua murid, dan lain sebagainya.
Seorang kepala sekolah beserta wakil dan deputinya
harus diperlengkapi dengan sebuah sistem informasi
yang dapat membantu mereka dalam mengambil
keputusan sehari-hari. Inilah peranan teknologi
informasi yang sangat strategis.
T.I. sebagai Infrastruktur Pendidikan
Infrastruktur adalah suatu hal fundamental yang
wajib dimiliki oleh sebuah entitas untuk dapat
berkembang. Dalam rangka membentuk sebuah
komunitas masyarakat berbasis informasi dan
pengetahuan yang baik, teknologi informasi harus
dianggap sebagai salah satu infrastruktur
pendidikan. Artinya adalah bahwa sekolah harus
mengalokasikan sejumlah sumber daya yang
dimiliki untuk diinvestasikan dalam membangun
kebutuhan wajib ini, terutama dalam hal
membangun: jaringan koneksi dengan internet,
perangkat komputer, aplikasi pendidikan, dan lain
sebagainya.
Penutup
Perlu diingat bahwa Indonesia telah menandatangani
komitmen dalam WSIS 2004 (World Summit on
Information Society) yang salah satu butir
kesepakatannya adalah suatu komitmen bahwa pada
tahun 2015, paling tidak 50% dari populasi
penduduk harus dapat memanfaatkan teknologi
informasi untuk meningkatkan kualitas kehidupan.
Data dari APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa
Internet Indonesia) memperlihatkan bahwa hingga
saat ini, pihak yang paling banyak berperan dalam
pembentukan individu yang paham teknologi
informasi adalah lembaga pendidikan. Hal ini berarti
bahwa pada institusi pendidikanlah terletak nasib
berhasil tidaknya bangsa Indonesia dalam
menciptakan masyarakat berbasis informasi dan
pengetahuan seperti yang dicita-citakan bersama.
Tanpa adanya keterlibatan penggunaan teknologi
informasi pada lembaga pendidikan dasar dan
menengah, maka cita-cita tersebut hanyalah
merupakan khayalan dan isapan jempol belaka.
Referensi dan Daftar Pustaka
A. Jatmiko Wibowo, Fandy Tjiptono, “Pendidikan
Berbasis Kompetensi”, Penerbitan Universitas Atma
Jaya, Yogyakarta, 2002.
Drs. Martinus Yamin, MPd., “Strategi Pembelajaran
Berbasis Kompetensi”, Gaung Persada Press, Jakarta,
2003.
Dr. E. Mulyasa, MPd., “Implementasi Kurikulum 2004:
Panduan Pembelajaran KBK”, Remaja Rosdakarya,
Bandung, 2004.
Prof. Dr. H. Nanang Fattah, “Konsep Manajamen Berbasis
Sekolah & Dewan Sekolah”, Pustaka Bani Quraisy,
Bandung, 2003.
Prof. Dr. H. A. R. Tilaar, MScEd., “Manajemen
Pendidikan Nasional: Kajian Pendidikan Masa
Depan”, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2004.
Smart School Project Team, “The Smart School: An MSC
Flagship Application”, Government of Malaysia,
1997.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun
2003 Teantang SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL.
5
Richardus Eko Indrajit, guru besar ilmu komputer ABFI Institute Perbanas, dilahirkan di Jakarta
pada tanggal 24 Januari 1969. Menyelesaikan studi program Sarjana Teknik Komputer dari Institut
Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dengan predikat Cum Laude, sebelum akhirnya
menerima bea siswa dari Konsorsium Production Sharing Pertamina untuk melanjutkan studi di
Amerika Serikat, dimana yang bersangkutan berhasil mendapatkan gelar Master of Science di bidang
Applied Computer Science dari Harvard University (Massachusetts, USA) dengan fokus studi di
bidang artificial intelligence. Adapun gelar Doctor of Business Administration diperolehnya dari
University of the City of Manyla (Intramuros, Phillipines) dengan disertasi di bidang Manajemen
Sistem Informasi Rumah Sakit. Gelar akademis lain yang berhasil diraihnya adalah Master of Business
Administration dari Leicester University (Leicester City, UK), Master of Arts dari the London School
of Public Relations (Jakarta, Indonesia) dan Master of Philosophy dari Maastricht School of
Management (Maastricht, the Netherlands). Selain itu, aktif pula berpartisipasi dalam berbagai
program akademis maupun sertifikasi di sejumlah perguruan tinggi terkemuka dunia, seperti:
Massachusetts Institute of Technology (MIT), Stanford University, Boston University, George
Washington University, Carnegie-Mellon University, Curtin University of Technology, Monash
University, Edith-Cowan University, dan Cambridge University. Saat ini menjabat sebagai Ketua
Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer (APTIKOM) se-Indonesia dan
Chairman dari International Association of Software Architect (IASA) untuk Indonesian Chapter.
Selain di bidang akademik, karir profesionalnya sebagai konsultan sistem dan teknologi informasi
diawali dari Price Waterhouse Indonesia, yang diikuti dengan berperan aktif sebagai konsultan senior
maupun manajemen pada sejumlah perusahaan terkemuka di tanah air, antara lain: Renaissance
Indonesia, Prosys Bangun Nusantara, Plasmedia, the Prime Consulting, the Jakarta Consulting Group,
Soedarpo Informatika Group, dan IndoConsult Utama. Selama kurang lebih 15 tahun berkiprah di
sektor swasta, terlibat langsung dalam berbagai proyek di beragam industri, seperti: bank dan
keuangan, kesehatan, manufaktur, retail dan distribusi, transportasi, media, infrastruktur, pendidikan,
telekomunikasi, pariwisata, dan jasa-jasa lainnya. Sementara itu, aktif pula membantu pemerintah
dalam sejumlah penugasan. Dimulai dari penunjukan sebagai Widya Iswara Lembaga Ketahanan
Nasional (Lemhannas), yang diikuti dengan beeperan sebagai Staf Khusus Bidang Teknologi
Informasi Sekretaris Jendral Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Staf Khusus Balitbang Departemen
Komunikasi dan Informatika, Staf Khusus Bidang Teknologi Informasi Badan Narkotika Nasional,
dan Konsultan Ahli Direktorat Teknologi Informasi dan Unit Khusus Manajemen Informasi Bank
Indonesia. Saat ini ditunjuk oleh pemerintah Republik Indonesia untuk menakhodai institusi pengawas
internet Indonesia ID-SIRTII (Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure).
Seluruh pengalaman yang diperolehnya selama aktif mengajar sebagai akademisi, terlibat di dunia
swasta, dan menjalani tugas pemerintahan dituliskan dalam sejumlah publikasi. Hingga menjelang
akhir tahun 2008, telah lebih dari 25 buku hasil karyanya yang telah diterbitkan secara nasional dan
menjadi referensi berbagai institusi pendidikan, sektor swasta, dan badan pemerintahan di Indonesia –
diluar beragam artikel dan jurnal ilmiah yang telah ditulis untuk komunitas nasional, regional, dan
internasional.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar